Tuesday, January 15, 2013

FROM ME-KILASAN MASA LALU YANG MASIH MENUNGGUKU



 Entah pelajaran apa yang dapat aku sampaikan dalam ceritaku kali ini. Bahkan sampai detik ini pun aku masih mencari pelajaran hidup yang dapat mengeluarkanku dalam posisi ini. 
Jika kalian menemukan sesuatu yang positif dan membantuku keluar dari masalah ini, aku menerima saran apapun J

Yang saat ini terfikirkan dalam otakku adalah tetap tinggal dalam zona asing yang bukan diriku, atau pergi dan menemukan diriku yang sebenarnya?
Sekali lagi yang aku rasakan adalah takut. Aku takut akan pemikiran orang disekelilingku yang menganggap aku membuang waktu, uang, kesempatan. Aku yang tak berani melawan dan melalui hal baru, dan aku yang bodoh dan tak punya pendirian.
Nah, itulah poinnya. Tidak punya pendirian, atau bodoh?
Bodoh karena tidak bisa melakukan hal baru, bodoh karena tidak ingin belajar, bodoh karena telah menyiakan semuanya, bodoh karena terlalu tergesa-gesa.
Ataukah semua ini karena aku yang tak memiliki pendirian yang kokoh? Tujuan yang jelas? Rencana yang matang? Cita-cita yang tinggi dan semangat untuk mewujudkan cita-cita itu?

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, aku kembali membuka catatan usangku yang masih aku simpan sejak aku duduk di Sekolah dasar.
Aku tidak tahu kapan dimulai, tetapi hampir di semua catatan itu tertuliskan “ENTERTAINER” semua yang aku tuliskan berhubungan dengan hiburan, dimulai dari niatku yang kuat untuk menjadi MODEL, PENYANYI, PENULIS, bahkan kutemukan beberapa buku bertuliskan “lirik lagu ciptaanku”. Aku ingat beberapa kali aku melontarkan kalimat “mba, kalau nanti aku jadi artis bla bla bla ...” beberapa kali aku mengucapkan kalimat itu kepada beberapa pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahku.
Saat itu aku berfikir “aku masih terlalu kecil untuk melakukan semua ini saat ini. Menjadi seorang entertainer” hingga berulang kali aku menyatakan impianku kepada orang-orang terdekat dan mereka sama sekali tidak memberikan respon positif seperti yang aku harapkan.
Saat itu aku berharap mereka mendukungku, mengarahkan jalanku, membantuku merealisasikan impianku itu. Namun yang aku dapat adalah “jangan berfikiran yang muluk-muluk *baca : sesuatu yang mustahil dan terlalu tinggi*
Ditambah tanggapan beberapa orang yang menganggap aku tidak memiliki bakat dan darah seni.
Semua itu yang terus menerus terekam dalam ingatanku hingga saat ini. Betapa semua kata-kata itu tersimpan kuat dalam ingatanku. Aku takut, aku malu. Aku takut jika aku gagal dan mereka berkata “sudah ku bilang, kamu tidak memiliki bakat seni, kenapa masih saja melakukan hal yang mustahil? Sedangkan jika kamu melakukan hal yang lebih bermanfaat, kamu akan lebih sukses dari ini.”
Ketakutan itu yang sampai detik ini menghalangi langkahku.
Satu kali, aku mencoba mengirimkan fotoku ke redaksi majalah untuk mengikuti ajang pemilihan cover majalah. Aku gagal. Aku tahu apa alasannya, bentuk tubuhku yang masih sangat kurang dari kata proposional, pengalaman dan prestasiku yang saat itu dan sampai saat ini masih tidak ada.
Kedua kali, aku berencana mengikuti pemilihan model di sebuah mall didaerah tempat tinggalku, aku berlatih beberapa kali bersama teman yang sudah memiliki pengalaman. Namun semua gagal karena tidak mendapatkan izin dari orang tua.
Ketiga, aku dibantu seorang tetangga yang entah saat itu ia benar atau bohong, mengirimkan fotoku ke sebuah redaksi majalah, namun hingga saat ini aku tidak tahu kelanjutannya (untuk yang satu ini aku tidak terlalu berharap).
Keempat, aku sudah beranjak dewasa, aku sudah lebih tahu internet, aku coba ‘searching’ beberapa informasi tentang ajang-ajang pencarian bakat, apapun jenisnya. Saat itu aku selalu dikendala oleh usia ku yang tanggung.
Saat SMA, aku sempat berniat mengubur cita-cita itu. Keluar dari mimpi dan harapan yang sejak lama telah bertahta di hati dan otakku. Namun rasanya semua sia-sia. Aku gak pernah benar-benar berhasil menghilangkan hasrat menjadi seorang seniman dalam fikiranku. Hingga aku berfikir untuk melanjutkan pendidikan ke institut seni, namun sekali lagi aku takut. Aku takut mendengar peolakan orang tuaku.
Aku merantau ke kota pelajar untuk persiapan tes yang sempat gagal di kedokteran. Saat itu tujuanku adalah menjadi seorang dokter. Walaupun itu tujuan utamaku, niat berikutnya adalah mengikuti ajang pencarian bakat dan menjadi seorang entertainer. Sama sekali tidak ada bayangan dalam diriku bagaimana kehidupan setelah menjadi dokter.
Aku sudah merasa dewasa dan dapat bertanggung jawab atas kehidupanku. Aku mengikuti beberapa website yang ‘katanya’ mempermudah akses menjadi seorang bintang. Dan beberapa kali aku mendapat panggilan casting sebuah acara TV di stasiun TV yang paling aku suka.
Setiap langkah dan apapun yang akan aku lakukan, aku selalu meminta izin orang tuaku. Walaupun aku tahu kemungkinan mendapatkan izin hanya sepersatu persen. Dan aku bukan tipikal anak yang nekat melakukan hal yang aku sukai tanpa memperdulikan perkataan orang tua. Karena aku tahu ucapan dan doa orang tua terutama ibu adalah yang terpenting untuk mencapai sukses.
Untuk beberapa kali panggilan casting, tidak ada satupun yang mendapatkan restu.
Dan aku masih tetap setia menuggu waktu dimana KESEMPATAN itu berpihak kepadaku.

0 comments:

Post a Comment

Tuesday, January 15, 2013

FROM ME-KILASAN MASA LALU YANG MASIH MENUNGGUKU


 Entah pelajaran apa yang dapat aku sampaikan dalam ceritaku kali ini. Bahkan sampai detik ini pun aku masih mencari pelajaran hidup yang dapat mengeluarkanku dalam posisi ini. 
Jika kalian menemukan sesuatu yang positif dan membantuku keluar dari masalah ini, aku menerima saran apapun J

Yang saat ini terfikirkan dalam otakku adalah tetap tinggal dalam zona asing yang bukan diriku, atau pergi dan menemukan diriku yang sebenarnya?
Sekali lagi yang aku rasakan adalah takut. Aku takut akan pemikiran orang disekelilingku yang menganggap aku membuang waktu, uang, kesempatan. Aku yang tak berani melawan dan melalui hal baru, dan aku yang bodoh dan tak punya pendirian.
Nah, itulah poinnya. Tidak punya pendirian, atau bodoh?
Bodoh karena tidak bisa melakukan hal baru, bodoh karena tidak ingin belajar, bodoh karena telah menyiakan semuanya, bodoh karena terlalu tergesa-gesa.
Ataukah semua ini karena aku yang tak memiliki pendirian yang kokoh? Tujuan yang jelas? Rencana yang matang? Cita-cita yang tinggi dan semangat untuk mewujudkan cita-cita itu?

Untuk menjawab semua pertanyaan itu, aku kembali membuka catatan usangku yang masih aku simpan sejak aku duduk di Sekolah dasar.
Aku tidak tahu kapan dimulai, tetapi hampir di semua catatan itu tertuliskan “ENTERTAINER” semua yang aku tuliskan berhubungan dengan hiburan, dimulai dari niatku yang kuat untuk menjadi MODEL, PENYANYI, PENULIS, bahkan kutemukan beberapa buku bertuliskan “lirik lagu ciptaanku”. Aku ingat beberapa kali aku melontarkan kalimat “mba, kalau nanti aku jadi artis bla bla bla ...” beberapa kali aku mengucapkan kalimat itu kepada beberapa pembantu rumah tangga yang bekerja di rumahku.
Saat itu aku berfikir “aku masih terlalu kecil untuk melakukan semua ini saat ini. Menjadi seorang entertainer” hingga berulang kali aku menyatakan impianku kepada orang-orang terdekat dan mereka sama sekali tidak memberikan respon positif seperti yang aku harapkan.
Saat itu aku berharap mereka mendukungku, mengarahkan jalanku, membantuku merealisasikan impianku itu. Namun yang aku dapat adalah “jangan berfikiran yang muluk-muluk *baca : sesuatu yang mustahil dan terlalu tinggi*
Ditambah tanggapan beberapa orang yang menganggap aku tidak memiliki bakat dan darah seni.
Semua itu yang terus menerus terekam dalam ingatanku hingga saat ini. Betapa semua kata-kata itu tersimpan kuat dalam ingatanku. Aku takut, aku malu. Aku takut jika aku gagal dan mereka berkata “sudah ku bilang, kamu tidak memiliki bakat seni, kenapa masih saja melakukan hal yang mustahil? Sedangkan jika kamu melakukan hal yang lebih bermanfaat, kamu akan lebih sukses dari ini.”
Ketakutan itu yang sampai detik ini menghalangi langkahku.
Satu kali, aku mencoba mengirimkan fotoku ke redaksi majalah untuk mengikuti ajang pemilihan cover majalah. Aku gagal. Aku tahu apa alasannya, bentuk tubuhku yang masih sangat kurang dari kata proposional, pengalaman dan prestasiku yang saat itu dan sampai saat ini masih tidak ada.
Kedua kali, aku berencana mengikuti pemilihan model di sebuah mall didaerah tempat tinggalku, aku berlatih beberapa kali bersama teman yang sudah memiliki pengalaman. Namun semua gagal karena tidak mendapatkan izin dari orang tua.
Ketiga, aku dibantu seorang tetangga yang entah saat itu ia benar atau bohong, mengirimkan fotoku ke sebuah redaksi majalah, namun hingga saat ini aku tidak tahu kelanjutannya (untuk yang satu ini aku tidak terlalu berharap).
Keempat, aku sudah beranjak dewasa, aku sudah lebih tahu internet, aku coba ‘searching’ beberapa informasi tentang ajang-ajang pencarian bakat, apapun jenisnya. Saat itu aku selalu dikendala oleh usia ku yang tanggung.
Saat SMA, aku sempat berniat mengubur cita-cita itu. Keluar dari mimpi dan harapan yang sejak lama telah bertahta di hati dan otakku. Namun rasanya semua sia-sia. Aku gak pernah benar-benar berhasil menghilangkan hasrat menjadi seorang seniman dalam fikiranku. Hingga aku berfikir untuk melanjutkan pendidikan ke institut seni, namun sekali lagi aku takut. Aku takut mendengar peolakan orang tuaku.
Aku merantau ke kota pelajar untuk persiapan tes yang sempat gagal di kedokteran. Saat itu tujuanku adalah menjadi seorang dokter. Walaupun itu tujuan utamaku, niat berikutnya adalah mengikuti ajang pencarian bakat dan menjadi seorang entertainer. Sama sekali tidak ada bayangan dalam diriku bagaimana kehidupan setelah menjadi dokter.
Aku sudah merasa dewasa dan dapat bertanggung jawab atas kehidupanku. Aku mengikuti beberapa website yang ‘katanya’ mempermudah akses menjadi seorang bintang. Dan beberapa kali aku mendapat panggilan casting sebuah acara TV di stasiun TV yang paling aku suka.
Setiap langkah dan apapun yang akan aku lakukan, aku selalu meminta izin orang tuaku. Walaupun aku tahu kemungkinan mendapatkan izin hanya sepersatu persen. Dan aku bukan tipikal anak yang nekat melakukan hal yang aku sukai tanpa memperdulikan perkataan orang tua. Karena aku tahu ucapan dan doa orang tua terutama ibu adalah yang terpenting untuk mencapai sukses.
Untuk beberapa kali panggilan casting, tidak ada satupun yang mendapatkan restu.
Dan aku masih tetap setia menuggu waktu dimana KESEMPATAN itu berpihak kepadaku.

0 comments:

Post a Comment

Animated Hello Kitty

Google+ Follow Twitter Add Facebook RSS FEED

Other Language

English French German Spain

Italian Dutch Russian Brazil

Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

>
Supported by Blogaul


Followers

Attention Please!

HALLO .. Mohon perhatiannya sebentar ya.. Blog ini masih dalam proses reparasi. Jadi aku minta pengertiannya untuk memaklumi keadaan postingan yang tidak beraturan. Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Maaf atas ketidak nyamanan ini ^^

From LYRICSMODE.COM lyrics archive
Lyrics | G.O lyrics - Even In My Dream lyrics

Viewers