Entah pelajaran apa yang dapat aku sampaikan dalam ceritaku kali ini. Bahkan sampai detik ini pun aku masih mencari pelajaran hidup yang dapat mengeluarkanku dalam posisi ini.Jika kalian menemukan sesuatu yang positif dan membantuku keluar dari masalah ini, aku menerima saran apapun J
Sekali lagi yang aku rasakan adalah takut. Aku takut akan pemikiran
orang disekelilingku yang menganggap aku membuang waktu, uang, kesempatan. Aku
yang tak berani melawan dan melalui hal baru, dan aku yang bodoh dan tak punya
pendirian.
Nah, itulah poinnya. Tidak punya pendirian, atau bodoh?
Bodoh karena tidak bisa melakukan hal baru, bodoh karena tidak
ingin belajar, bodoh karena telah menyiakan semuanya, bodoh karena terlalu
tergesa-gesa.
Ataukah semua ini karena aku yang tak memiliki pendirian yang
kokoh? Tujuan yang jelas? Rencana yang matang? Cita-cita yang tinggi dan
semangat untuk mewujudkan cita-cita itu?
Untuk menjawab semua pertanyaan itu, aku kembali membuka
catatan usangku yang masih aku simpan sejak aku duduk di Sekolah dasar.
Aku tidak tahu kapan dimulai, tetapi hampir di semua catatan
itu tertuliskan “ENTERTAINER” semua yang aku tuliskan berhubungan dengan
hiburan, dimulai dari niatku yang kuat untuk menjadi MODEL, PENYANYI, PENULIS,
bahkan kutemukan beberapa buku bertuliskan “lirik lagu ciptaanku”. Aku ingat
beberapa kali aku melontarkan kalimat “mba, kalau nanti aku jadi artis bla bla
bla ...” beberapa kali aku mengucapkan kalimat itu kepada beberapa pembantu
rumah tangga yang bekerja di rumahku.
Saat itu aku berfikir “aku masih terlalu kecil untuk melakukan
semua ini saat ini. Menjadi seorang entertainer” hingga berulang kali aku
menyatakan impianku kepada orang-orang terdekat dan mereka sama sekali tidak
memberikan respon positif seperti yang aku harapkan.
Saat itu aku berharap mereka mendukungku, mengarahkan jalanku,
membantuku merealisasikan impianku itu. Namun yang aku dapat adalah “jangan
berfikiran yang muluk-muluk *baca : sesuatu yang mustahil dan terlalu tinggi*
Ditambah tanggapan beberapa orang yang menganggap aku tidak
memiliki bakat dan darah seni.
Semua itu yang terus menerus terekam dalam ingatanku hingga
saat ini. Betapa semua kata-kata itu tersimpan kuat dalam ingatanku. Aku takut,
aku malu. Aku takut jika aku gagal dan mereka berkata “sudah ku bilang, kamu
tidak memiliki bakat seni, kenapa masih saja melakukan hal yang mustahil?
Sedangkan jika kamu melakukan hal yang lebih bermanfaat, kamu akan lebih sukses
dari ini.”
Ketakutan itu yang sampai detik ini menghalangi langkahku.
Satu kali, aku mencoba mengirimkan fotoku ke redaksi majalah
untuk mengikuti ajang pemilihan cover majalah. Aku gagal. Aku tahu apa
alasannya, bentuk tubuhku yang masih sangat kurang dari kata proposional,
pengalaman dan prestasiku yang saat itu dan sampai saat ini masih tidak ada.
Kedua kali, aku berencana mengikuti pemilihan model di sebuah
mall didaerah tempat tinggalku, aku berlatih beberapa kali bersama teman yang
sudah memiliki pengalaman. Namun semua gagal karena tidak mendapatkan izin dari
orang tua.
Ketiga, aku dibantu seorang tetangga yang entah saat itu ia
benar atau bohong, mengirimkan fotoku ke sebuah redaksi majalah, namun hingga
saat ini aku tidak tahu kelanjutannya (untuk yang satu ini aku tidak terlalu
berharap).
Keempat, aku sudah beranjak dewasa, aku sudah lebih tahu
internet, aku coba ‘searching’ beberapa informasi tentang ajang-ajang pencarian
bakat, apapun jenisnya. Saat itu aku selalu dikendala oleh usia ku yang
tanggung.
Saat SMA, aku sempat berniat mengubur cita-cita itu. Keluar
dari mimpi dan harapan yang sejak lama telah bertahta di hati dan otakku. Namun
rasanya semua sia-sia. Aku gak pernah benar-benar berhasil menghilangkan hasrat
menjadi seorang seniman dalam fikiranku. Hingga aku berfikir untuk melanjutkan
pendidikan ke institut seni, namun sekali lagi aku takut. Aku takut mendengar
peolakan orang tuaku.
Aku merantau ke kota pelajar untuk persiapan tes yang sempat
gagal di kedokteran. Saat itu tujuanku adalah menjadi seorang dokter. Walaupun
itu tujuan utamaku, niat berikutnya adalah mengikuti ajang pencarian bakat dan
menjadi seorang entertainer. Sama sekali tidak ada bayangan dalam diriku
bagaimana kehidupan setelah menjadi dokter.
Aku sudah merasa dewasa dan dapat bertanggung jawab atas
kehidupanku. Aku mengikuti beberapa website yang ‘katanya’ mempermudah akses
menjadi seorang bintang. Dan beberapa kali aku mendapat panggilan casting
sebuah acara TV di stasiun TV yang paling aku suka.
Setiap langkah dan apapun yang akan aku lakukan, aku selalu
meminta izin orang tuaku. Walaupun aku tahu kemungkinan mendapatkan izin hanya
sepersatu persen. Dan aku bukan tipikal anak yang nekat melakukan hal yang aku
sukai tanpa memperdulikan perkataan orang tua. Karena aku tahu ucapan dan doa
orang tua terutama ibu adalah yang terpenting untuk mencapai sukses.
Untuk beberapa kali panggilan casting, tidak ada satupun yang
mendapatkan restu.
Dan aku masih tetap setia menuggu waktu dimana KESEMPATAN itu berpihak kepadaku.


0 comments:
Post a Comment